Motivasi Siswa

Motivasi Siswa

1. Pengertian  Motivasi

Motivasi berasal dari kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas manusia karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal (Malayu S.P Hasibuan,2001 : 141)

“Motivasi adalah kondisi psikologis yang menimbulkan, mengarahkan, dan mempertahankan tingkah laku tertentu” (Pitrinch & Schunk, dalam Sukadji & Singgih-Salim, 2001). Winkel (1996) menyatakan bahwa “motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arahan pada kegiatan belajar itu demi mencapai tujuan”. Motivasi merupakan syarat mutlak untuk belajar dan mempengaruhi arah aktivitas yang dipilih serta intensitas keterlibatan seseorang dalam suatu aktivitas.

Menurut Michael J. Jucius dalam Onong Uchjana Effendy (1993:69) “motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki”.

Menurut G R Terry yang diterjemahkan oleh J Smith D.F.M (2003 : 130), motivasi dapat diartikan sebagai suatu usaha agar seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat karena ada tujuan yang ingin dicapai. Manusia mempunyai motivasi yang berbeda tergantung dari banyaknya faktor seperti kepribadian, ambisi, pendidikan dan usia.

Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila didalam dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang akan dipelajari dan tidak memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari, maka kegiatan belajar mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi.

Dengan motivasi orang akan terdorong untuk bekerja mencapai sasaran dan tujuannya karena yakin dan sadar akan kebaikan, kepentingan dan manfaatnya. Bagi siswa motivasi ini sangat penting karena dapat menggerakkan perilaku siswa kearah yang positif sehingga mampu menghadapi segala tuntutan, kesulitan serta menanggung resiko dalam belajarnya.

Motivasi merupakan suatu kondisi psikologis dalam diri seseorang yang mendukung tingkah laku orang yang relatif menetap. Motivasi besar pengaruhnya dalam melakukan suatu aktivitas, sebab dengan motivasi seseorang akan melakukan sesuatu yang dimotivasinya. Sebaliknya tanpa motivasi, seseorang akan merasa malas melakukan sesuatu.

Purwanto (2007 : 6) mengemukakan “Motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan atau perangsang”. Sahabuddin (2000  : 146) mengemukakan “Motivasi adalah dorongan atau kehendak, yang menyebabkan timbulnya kekuatan sehingga bertindak atau bertingkah laku”.

Sementara Sadirman (2001 : 73) mengemukakan “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai munculnya “feeling” dan didahuluitanggapan terhadap adanya tujuan”.

Moekijas (1987 : 27) mengemukakan “Motivasi adalah pengaruh suatu kekuatan yang menimbulkan perilaku.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan  bahwa motivasi merupakan keinginan-keingman, dorongan-dorongan yang timbul dalam diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan.

Dari pengertian tentang motivasi, maka pada hakikatnya dalam motivasi terkandung beberapa elemen seperti di kemukakan Sadirman (2001  : 72) yaitu :

  1. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem “NEUROYSIOLOGICAL” yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari diri manusia), menampakkannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
  2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa, afeksi seseorang, dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afektif dan eniosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
  3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi, motivasi dalam hal ini sebenarya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya terangsang oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan, tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting dimiliki setiap orang dalam melakukan sesuatu walaupun sifatnya kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya perubahan yang ada pada diri manusia, dan berkaitan pada diri manusia, dan berkaitan dengan persoalan kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan untuk mewujudkannya sehingga harapan dapat berubah menjadi kenyataan, sasaran motivasi adalah belajar.

2. Pengertian Motivasi Belajar Siswa

Motivasi belajar merupakan kecenderungan seseorang seperti halnya anak didik untuk merasa dalam mengikuti pelajaran di SD maupun di rumah, yang ditunjukkan oleh keaktifan dalam mengikuti proses belajar di kelas, kesenangan atau ketertarikan dalam mengikuti pelajaran di SD, dan menyelesaikan tugas di sekolah dan belajar di rumah. Hal ini didasarkan pada pendapat Sadirman (2001 : 73) bahwa :

“Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri murid yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai”.

Hal senada di kemukakan oleh Wingkel (1991 : 94) bahwa ” Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar guna mencapai tujuan”.

Sesuai pendapat di atas, maka motivasi belajar merupakan dorongan untuk melakukan suatu aktivitas berupa aktivitas belajar yang di latar belakangi oleh adanya rasa senang yang di tunjukkan oleh keaktifan dalam mengikuti proses belajar di sekolah atau saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Kesenangan atau ketertarikan dalam mengikuti pelajaran di SD seperti berkonsentrasi terhadap pelajaran, dan menyelesaikan tugas di sekolah, baik secara mandiri atau kelompok.

3. Unsur-unsur Motivasi Belajar Siswa

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1994 : 89-92) ada beberapa factor yang mempengaruhi motivasi belajar,yaitu:

a. Cita-cita atau aspirasi siswa

Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama, bahkan sepanjang hayat. Cita-cita siswa untuk ”menjadi seseorang” akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan pelaku belajar. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ektrinsik sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.

b. Kemampuan Belajar

Dalam belajar dibutuhkan berbagai kemampuan. Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa. Misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir dan fantasi. Di dalam kemampuan belajar ini, sehingga perkembangan berfikir siswa menjadi ukuran. Siswa yang taraf perkembangan berfikirnya konkrit (nyata) tidak sama dengan siswa yang berfikir secara operasional (berdasarkan pengamatan yang dikaitkan dengan kemampuan daya nalarnya).

Jadi siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi, biasanya lebih termotivasi dalam belajar, karena siswa seperti itu lebih sering memperoleh sukses oleh karena kesuksesan memperkuat motivasinya.

c. Kondisi Jasmani dan Rohani Siswa

Siswa adalah makhluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Jadi kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar disini berkaitan dengan kondisi fisik dan kondisi psikologis, tetapi biasanya guru lebih cepat melihat kondisi fisik, karena lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada kondisi psikologis. Misalnya siswa yang kelihatan lesu, mengantuk mungkin juga karena malam harinya bergadang atau juga sakit.

d. Kondisi Lingkungan Kelas

Kondisi lingkungan merupakan unsur-unsur yang datangnya dari luar diri siswa. Lingkungan siswa sebagaimana juga lingkungan individu pada umumnya ada tiga yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Jadi unsur-unsur yang mendukung atau menghambat kondisi lingkungan berasal dari ketiga lingkungan tersebut. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara guru harus berusaha mengelola kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menampilkan diri secara menarik dalam rangka membantu siswa termotivasi dalam belajar.

e. Unsur-unsur Dinamis Belajar

Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar yang tidak stabil, kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali.

f. Upaya Guru Membelajarkan Siswa

Upaya yang dimaksud disini adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa.

Dibawah ini Bejo Siswanto (1990:136) menguraikan unsur-unsur penggerak motivasi sebagai berikut :

a.   Prestasi (Achievement)

Seseorang memiliki keinginan berprestasi sebagai suatu “kebutuhan” dapat mendorongnya mencapai sasaran.

b.  Penghargaan (Recognition)

penghargaan, pengakuan atas suatu prestasi yang telah dicapai oleh seseorang merupakan motivator yang kuat. Pengakuan atas suatu prestasi akan memberikan kepuasan batin yang lebih tinggi daripada penghargaan dalam bentuk materi atau hadiah. Penghargaan atau pengakuan dalam bentuk piagam, penghargaan atau medali, dapat menjadikan motivator yang lebih kuat dibandingkan dengan hadiah berupa uang/ bonus atau barang.

c.   Tantangan (Challenge)

adanya tantangan yang dihadapi, merupakan perangsang kuat bagi manusia untuk mengatasinya. Suatu sasaran yang tidak menantang atau dengan mudah dapat dicapai biasanya tidak mampu menjadi perangsang, bahkan cenderung menjadi kegiatan rutin. Tantangan demi tantangan biasanya akan menumbuhkan kegairahan untuk mengatasinya.

d.   Tanggung Jawab (Responsibility)

adanya rasa ikut memiliki akan menimbulkan motivasi untuk turut bertanggung jawab.

e.   Pengembangan (Development)

pengembangan kemampuan seseorang, baik dari pengalaman kerja atau kesempatan untuk maju, dapat merupakan perangsang kuat bagi tenaga kerja untuk bekerja lebih giat atau lebih bergairah. Apa lagi jika pengembangan perusahaan selalu dikaitkan dengan kinerja atau produktivitas tenaga kerja.

f.   Keterlibatan (involvement)

rasa ikut terlibat dalam suatu proses pengambilan keputusan, dapat pula “kotak saran” dari tenaga kerja, yang dijadikan masukan untuk manajemen perusahaan, merupakan perangsang yang cukup kuat untuk tenaga kerja. Adanya rasa keterlibatan buka saja menciptakan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab, tetapi juga menimbulkan mawas diri untuk bekerja lebih baik, menghasilkan produk yang lebih bermutu.

g.   Kesempatan (Opportunity)

kesempatan untuk maju dalam bentuk jenjang karier yang terbuka, dari tingkat bawah sampai tingkat manajemen puncak merupakan perangsang yang cukup kuat bagi tenaga kerja.bekerja tanpa harapan atau kesempatan untuk meraih kemajuan atau perbaikan nasib, tidak akan merupakan perangsang untuk berkinerja atau bekerja produktif.

Menurut Max Darsono (2000:65), ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, yaitu:

a. Cita-cita.

Cita-cita adalah sesuatu target yang ingin dicapai. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang. Munculnya cita-cita seseorang disertai dengan perkembangan akar, moral kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan yang juga menimbulkan adanya perkembangan kepribadian.

b. Kemampuan belajar.

Setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Hal ini diukur melalui taraf perkembangan berpikir siswa, dimana siswa yang taraf perkembangan berpikirnya konkrit tidak sama dengan siswa yang sudah sampai pada taraf perkembangan berpikir rasional. Siswa yang merasa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, maka akan mendorong dirinya berbuat sesuatu untuk dapat mewujudkan tujuan yang ingin diperolehnya dan sebaliknya yang merasa tidak mampu akan merasa malas untuk berbuat sesuatu.

c.  Kondisi siswa.

Kondisi siswa dapat diketahui dari kondisi fisik dan kondisi psikologis, karena siswa adalah makluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Kondisi fisik siswa lebih cepat diketahui daripad kondisi psikologis. Hal ini dikarenakan kondisi fisik lebih jelas menunjukkan gejalanya daripada kondisi psikologis.

d.   Kondisi lingkungan.

Kondisi lingkungan merupakan unsur yang datang dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan fisik sekolah, saran dan prasarana perlu ditata dan dikelola agar dapat menyenangkan dan membuat siswa merasa nyaman untuk belajar. Kebutuhan emosional psikologis juga perlu mendapat perhatian, misalnya kebutuhan rasa aman, berprestasi, dihargai, diakui yang harus dipenuhi agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.

e.   Unsur-unsur dinamis dalam belajar.

Unsur-unsur dinamis adalah unsur-unsur yang keberadaannya didalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali misalnya gairah belajar, emosi siswa dan lain-lain. Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan selama proses belajar, kadang-kadang kuat atau lemah.

f.    Upaya guru membelajarkan siswa.

Upaya guru membelajarkan siswa adalah usaha guru dalam mempersiapkan diri untuk membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titik tolak, besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga motivasi belajar siswa menjadi melemah atau hilang.

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu : cita-cita, kemampuan belajar, kondisi siswa, kondisi siwa, kondisi lingkungan, Unsur-unsur dinamis dalam belajar, dan upaya guru membelajarkan siswa.

4. Tujuan Motivasi

Motivasi merupakan pendorong bagi seseorang untuk melakukan aktivitas, di antaranya aktivitas belajar. Adanya motivasi dalam diri seseorang atau adanya dorongan dari luar diri akan memberi semangat untuk belajar sehingga motivasi akan mengarahkan seseorang untuk melakukan aktivitas. Menurut Purwanto (2007 : 73), “Tujuan motivasi yaitu untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu”. Hal ini berarti motivasi akan menggerakkan atau menjadi pendorong bagi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas sehingga aktivitas yang dilakukan dapat lebih terarah dan mencapai tujuan yang maksimal. Motivasi dalam diri seseorang yang mengarahkan untuk melakukan suatu aktivitas akan semakin menggairahkan atau pendorong untuk mencapai tujuan yang direncanakan. Jadi tujuan motivasi adalah menggerakkan seseorang secara fisik dan psikologis agar dapat melakukan suatu aktivitas, di antaranya aktivitas belajar.

5. Teori Motivasi

Berbagai teori motivasi di kemukakan oleh Purwanto (2007 : 74)”teori hedonisme, teori naluri, teori reaksi yang dipelajari, teori daya pendorong, dan teori kebutuhan”. Kelima jenis teori motivasi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

a.   Teori Hedonisme

Hedonisme merupakan suatu aliran di dalam filsafat yang memandang tujuan hidup yang utama adalah mencari kesenangan yang bersifat duniawi. Menurut pandangan teori ini, manusia merupakan makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memiliki alteraatif pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan daripada mengakibatkan kesukaran.

b.   Teori Naluri

Teori naluri menekankan pada tiga dorongan nafsu pokok pada diri manusia, yaitu dorongan mempertahankan diri, dorongan mengembangkan diri, dan dorongan mengembangkan jenis. Menurut teori ini, untukmemotivasi seseorang harus berdasarkan naliiri mana yang akan dituju dan perlu dikembangkan.

c.   Teori reaksi yang dipelajari

Teori ini menekankan pada tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri, tetapi berdasarkan pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang hidup itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, apabila seseorang pemimpin atau pendidik akan memotivasi anak didiknya, pendidik hendaknya mengetahui benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang yang dididiknya.

d.   Teori daya pendorong

Teori daya pendorong merupakan perpaduan teori naluri dengan teori reaksi yang dipelajari. Daya pendorong merupakan semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya sesuatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Narnun, cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlainan menurut latar belakang kebudayaannya.

e.   Teori kebutuhan

Teori   kebutuhan   dikembangkan   oleh   Arahan   Maslow.   Teori   ini menekankan bahwa tindakan yang dilakukan adalah untuk mernenuhikebutuhan, baik kebutuhan fisik maupun psikis. Seorang pendidik yang bermaksud memberikan motivasi kepada muridnya, ia harus berasaha mengetahui terlebih dahulu kebutuhan orang yang dididiknya. Semakin tahu kebutuhan anak didik, maka akan semakin mudah guru dalam memberikan  motivasi   sehingga  anak  didik  akan   merasa  terpenuhi kebutuhannya.

8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa

Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar anak didik di SD, tetapi pada pokoknya dapat diklasifikasikan atas dua bagian, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri seseorang. Dan faktor eksternal yaitu berasal dari luar diri seseorang. Demikian halnya dengan motivasi untuk melakukan aktivitas belajar pada hakikatnya di pengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Menurut Brophy (2004), terdapat lima faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siwa, yaitu:

  1. Harapan guru
  2. Instruksi langsung
  3. Umpanbalik (feedback) yang tepat
  4. Penguatan dan hadiah
  5. Hukuman

Sahabuddin (2000 : 152) mengemukakan “Sumber datangnya motivasi biasanya digolongkan ke dalam dua hal yaitu dari dalam dan dari luar diri dari orang yang bermotivasi “. Hal sama dikemukakan oleh Sadirman (2001 : 87) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu :

  1. Motivasi Intrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu sebagai contoh, orang yang senang niembaca.
  2. Motivasi Ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif dan berfiingsinya karena ada rangsangan dari luar. Seseorang itu belajar dari harapan dengan mendapat nilai baik. Sehingga akan dipuji oleh orang tuanya.

Kedua faktor yang mempengaruhi motivasi belajar diuraikan sebagai berikut:

1)      Faktor dari dalam diri murid

Faktor dari dalam diri murid yang mempengaruhi motivasi belajar dapat berupa fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis dibedakan atas dua bagian yaitu keadaan jasmani pada umumnya yaitu kondisi tubuh seperti kesegaran tubuh, keadaan fungsi-fungsi tertentu yang meliputi panca indra, sedangkan faktor psikologis merupakan faktor internal yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar, seperti adanya keingintahuan yang tinggi terhadap apa yang ingin dipelajari, adanya sifat kreatif pada diri anak didik dan keinginan untuk selalu maju dan keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

Djamarah (2002 : 116) mengemukakan : murid yang memiliki motivasi intrinsik akan cenderung menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Gemar belajar adalah aktivitas yang tak pernah sepi dari kegiatan murid yang memiliki motivasi intrinsik.

Sadirman (2001 : 87) yang mengklasifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu ” motivasi intrinsik yaitu itu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, dan motivasi ekstrinsik berupa rangsangan dari luar “. Hendrojuono (1983 : 23) mengemukakan ” motivasi seorang murid terhadap apa yang dipelajari merupakan salah satu faktor yang memungkinkan konsentrasi belajarnya, karena menarik minat terhadap apa yang dipelajarinya “.

Pendapat di atas menegaskan tentang pentingnya motivasi yang bersumber dari dalam diri anak didik, karena hal tersebut dapat menjadi sumber motivator yang sangat berarti bagi anak didik dalam melakukan aktivitas belajar. Adanya motivasi yang bersifat intrinsik akan menumbuhkan kesadaran anak didik melakukan aktivitas belajar dibandingkan jika motivasi hanya muncul karena rangsangan dari luar dirinya.

2)      Faktor dari luar anak didik

Faktor dari luar diri anak didik yang mempengaruhi motivasi belajar anak dapat dibagi atas dua aspek yaitu faktor sosial dan non sosial. Faktor non sosial dalam belajar yang mempengaruhi motivasi belajar anak dapat berupa keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang atau malam). Tempat belajar, alat-alat yang digunakan dalam belajar, termasuk adanya hadiah penghargaan sebagai suatu motivasi belajar bagi anak didik, Sedangkan faktor sosial berupa manusia yaitu kehadiran orang lain dalamkegiatan belajar. Jika ada orang yang member! semangat untuk belajar, seperti orang tua, teman terdekat, saudara, dan sebagainya akan dapat memacu motivasi belajar seseorang.

Faktor motivasi dapat dipengaruhi oleh adanya rangsangan dari luar seperti adanya hadiah penghargaan atas prestasi yang dicapai, d imana hal tersebut dapat menjadi dorongan bagi murid untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar, bahkan rangsangan yang diterima berupa hadiah penghargaan dan penguatan akan dapat menjadi motivasi bagi anak didik lainnya. Para anak didik memiliki berbagai kemampuan sehubungan dengan apa yang dipelajari, seperti, menghargai, memahami apa yang dipelajari sehingga dapat meningkatkan kemampuan hasil dan hasil belajar anak didik.

Motivasi belajar dapat menentukan hasil belajar yang dicapai anak didik. Hasil belajar dapat diartikan sebagai taraf kemampuan aktual yang bersifat terukur berupa penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dicapai anak didik dari apa yang dipelajari di SD. Analisis tentang pembelajaran di sekolah melibatkan input, proses, dan output yang sekaligus dapat mempengaruhi hasil belajar, input menyangkut karakteristik anak didik. Proses mencakup bagaimana belajar itu berlangsung dan faktor-faktor/prinsip-prinsip apa yang mempengaruhi motivasi belajar itu. Output adalah mengenai hasil belajar yang berkaitandengan tujuan pendidikan yang dijabarkan dalam tujuan pembelajaran. Hal yang pokok pada output adalah pengukuran tentang hasil belajar.

9. Fungsi Motivasi dalam belajar

Motivasi belajar dapat tumbuh baik dari diri anak maupun dari luar dirinya. Baik motivasi dari diri anak maupun dari luar, keduanya berfungsi sebagai pendorong, penggerak dan penyeleksi perbuatan. Kesemuanya akan menyatu dalam sikap yang diimplementasikan dalam perbuatan. Dorongan merupakan suatu fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dan menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun kata kunci dari motivasi dalam setiap aktivitas dalam belajar. Hal ini berarti bahwa motivasi sangat penting bagi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar, baik motivasi dari dalam diri maupun dari luar diri anak.

Djamarah (2002 : 123) mengemukakan fungsi motivasi dalam belajar yaitu 1) motivasi sebagai pendorong perbuatan, 2) motivasi sebagai penggerak perbuatan dan 3) motivasi sebagai pengarah perbuatan. Ketiga fungsi motivasi dalam belajar tersebut, akan diuraikan sebagai berikut:

1)       Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Seorang anak didik yang pada mulanya tidak hasrat atau keinginan untuk belajar, tetapi kemudian ada sesuatu yang dicari atau ingin diketahui sehingga muncullah minat untuk belajar. Sesuatu yang ingin diketahui itu dalam rangka untuk memenuhi rasa ingin tahunya, maka menimbulkansuatu dorongan untuk berbuat. Hal ini berarti sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap yang seharusnya dilakukan dalam rangka kegiatan belajar.

2)       Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Adanya dorongan psikologis yang dapat melahirkan sikap anak didik untuk melakukan suatu aktivitas seperti aktivitas belajar, tentu merupakan suatu kekuatan yang tak terbentuk yang kemudian diwujudkan dalam bentuk gerakan fisik atau berbuat. Anak melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dan dengan kehendak perbuatan belajar, sehingga motivasi untuk berbuat.

3)        Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Anak didik mempunyai motivasi tentu dapat menyeleksi perbuatan yang

dapat dilakukan dan yang tidak dilakukan. Anak didik ingin mendapatkan sesuatu dari suatu kegiatan belajar, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari suatu materi yang lain, karena anak didik yang bersangkutan akan mempelajari materi di mana tersimpan suatu yang akan dicari atau dibutuhkan.

Dengan demikian bahwa motivasi dalam belajar yaitu 1) motivasi sebagai pendorong perbuatan, 2) motivasi sebagai penggerak perbuatan dan 3) motivasi sebagai pengarah perbuatan.

10. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Setiap siswa tidak selamanya memiliki motivasi belajar yang tinggi, tentu ada yang memiliki motivasi belajar rendah. Demikian pula motivasi belajar dalam diri seseorang tidak selamanya menetap dalam arti selalu tinggi, tetapi dapat di lain waktu memiliki motivasi belajar yang rendah, Hal ini berarti perlunya ada upaya untuk meningkatkan motivasi belajar anak didik.

Haling (2007 : 102) mengemukakan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu ” memberi angka, hadiah, saingan/kompetisi, ego involvement, memberi ulangan, mengetahui hasil, ujian, hukuman, hasrat untuk belajar dan rninat”. Sementara Djamarah (2002 : 135) mengemukakan upaya-upaya yang dapat ditempuh dalam meningkatkan motivasi belajar murid yaitu :             1) menggairahkan murid, 2) memberi harapan realistik, 3) memberi insentif, dan 4) mengarahkan perilaku murid.

Upaya peningkatan motivasi menurut Djamarah (2002 : 135) di atas diuraikan sebagai berikut:

1)       Menggairahkan Murid

Guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan bagi anak didik dalam melakukan aktivitas belajar. Guru harus memberikan rangsangan kepada murid untuk dapat berpikir dan melakukan sesuatu secara kreatif, seperti dalam menggunakan penguatan, menggunakan metode dan media pembelajaran secara bervariasi sehingga murid dapat bergairah dan aktif dalam pembelajaran.

2)        Memberikan Harapan Realistis

Guru saat mengajar harus memelihara harapan-harapan murid yang realistis dan memodifikasi harapan yang kurang atau tidak realistis. Jika murid menunjukkan suatu kegagalan dalam belajar, maka harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan kepada murid berupa dorongan untuk berpikir dan belajar agar dapat memenuhi harapannya menguasai materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

3)       Memberikan Insentif

Jika murid berhasil dalam belajarnya, guru seharusnya dapat memberikan penguatan atas keberhasilan murid. Pemberian penguatan harus dilakukan secara Objektif dan tepat waktu yang memungkinkan murid dapat menyadari bahwa insentif yang diperoleh merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya. Selain pemberian penguatan, murid juga dapat diberikan hadiah penghargaan atas keberhasilan studinya yang dilakukan secara objektif dan tepat waktu.

4)        Mengarahkan Perilaku Anak

Mengarahkan perilaku murid merupakan salah satu tugas guru. Jika murid menunjukkan perilaku kurang terarah terhadap pelajaran, maka menjadi tugas guru untuk menegur dan mengalihkan perhatian murid terhadap pelajaran. Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan motivasi belajar anak didik. Upaya-upaya tersebut harus dilakukan secara terencana dan terarah sehingga harapan guru untuk meningkatkan motivasi belajar anak didik melalui upaya yang dilakukan dapat tercapai secara optimal.

C. Pembelajaran

1. Pengertian Pembelajaran

Menurut Dr. Oemar Hamalik (2008 : 57) ”Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran”. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagamya.

Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas atau di sekolah, karena diwamai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan peserta didik.

Menurut Robbins, Stephen P (2007  :  69-79).Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman”. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa “seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri” Robbins, Stephen P (2007  :  69-79) .Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diobservasi.

Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespons sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya (McGehee, W, 1958  :  2)

2.     Teori-Teori Pembelajaran

Istilah mengajar dan belajar adalah dua peristiwa yang berbeda, tetapi terdapat hubungan yang erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling pengaruh-mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain.

Banyak ahli yang telah merumuskan pengertian mengajar ber­dasarkan pandangannya masing-masing. Perumusan dan tinjauan itu masing-masing memliki kebaikan dan kelemahan. Berbagai rumusan yang ada pada dasamya berlandaskan pada teori tertentu.

a.  Mengajar adalah Upaya Menyampaikan Pengetahuan Kepada Peserta Didik/Siswa di Sekolah

Rumusan ini sesuai dengan pendapat dalam teori pendidikan yang mementingkan mata ajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik. Dalam rumusan tersebut terkandung konsep-konsep, sebagai berikut:

1).    Pembelajaran merupakan persiapan di masa depan

Masa depan kehidupan anak ditentukan oleh orang tua. Mereka yang dianggap paling mengetahui apa dan bagaimana kehidupan itu. Itu sebabnya, orang tua berkewajiban menentukan akan dijadi-kan apa peserta didik. Sekolah berfungsi mempersiapkan mereka agar mampu hidup dalam masyarakat yang akan datang.

2).    Pembelajaran   merupakan  suatu  proses penyampaian pengetahuan

Penyampaian pengetahuan dilaksanakan dengan menggunakan metode imposisi, dengan cara menuangkan pengetahuan kepada siswa. Umumnya guru menggunakan metode “formal step” dari J. Herbart berdasarkan asas asosiasi dan reproduksi atas tanggapan/kesan. Cara penyampaian pengetahuan tersebut berdasarkan ajaran dalam psikologi asosiasi.

3).    Tinjauan utama pembelajaran ialah penguasaan pengetahuan

Pengetahuan sangat penting bagi manusia. Barangsiapa menguasai pengetahuan, maka dia dapat berkuasa : “Knowledge is power“. Pengetahuan bersumber dari perangkat mata ajaran yang disampaikan di sekolah. Para pakar yang mendukung teori ini berpendapat, bahwa mata ajaran berasal dari pengalaman-pengalaman orang tua, masa lampau yang berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman itu diselidiki, di-susun secara sistematis dan logis, sehingga tercipta yang kita sebut mata ajaran-mata ajaran (H. Alberty 1953). Mata ajaran-mata ajaran itu diuraikan, disusun dan dimuat dalam buku pelajaran dan berbagai referensi lainnya.

4).    Guru dipandang sebagai orang yang sangat berkuasa

Peranan guru sangat dominan. Dia menentukan segala hal yang dianggap tepat untuk disajikan kepada para siswanya. Guru dipandang sebagai orang yang serba mengetahui, berarti guru adalah yang paling pandai. Dia mempersiapkan tugas-tugas, memberikan latihan-latihan dan menentukan peraturan dan kemajuan tiap siswa.

5).    Siswa selalu bersikap dan bertindak pasif

Siswa dianggap sebagai tong kosong, belum mengetahui apa-apa. Dia hanya menerima apa yang diberikan oleh gurunya. Siswa bersikap sebagai pendengar, pengikut, pelaksana tugas. Kebutuh-an, minat, tujuan, abilitas dan lain-lain yang dimiliki oleh siswa diabaikan dan tidak mendapat perhatian guru.

6).    Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung dalam kelas

Pembelajaran dilaksanakan dalam batas-batas ruangan kelas saja, sedangkan pembelajaran di luar kelas tak pemah dilakukan. Tembok sekolah menjadi benteng yang kuat yang membatasi hubungan dengan kehidupan masyarakat. Para siswa duduk pada bangku-bangku yang berdiri kokoh, tak bisa dipmdah-pindahkan. Mereka duduk dengan rapi dan kaku secara rutin setiap hari. Ruangan kelas dipandang sebagai ruang penyelamat, ruang memberi ker hidupan. Belajar dalam batas-batas ruangan itu adalah belajar yang paling baik.

b. Mengajar adalah Mewariskan Kebudayaan Kepada Generasi Muda Melalui Lembaga Pendidikan Sekolah

Rumusan ini bersifat lebih umum bila dibandingkan dengan rumusan pertama, namun antara keduanya memiliki pola pikiran yang seirama. Implikasi dari rumusan ini adalah sebagai berikut:

1).    Pembelajaran bertujuan membentuk manusia berbudaya

Peserta didik hidup dalam pola kebudayaan masyarakatnya. Manusia berbudaya adalah manusia yang mampu hidup dalam pola tersebut. Peserta didik diajar agar memiliki kemampuan dan kepribadian sesuai dengan kehidupan budaya masyarakatnya itu.

2).    Pembelajaran berarti suatu proses pewarisan

Para siswa dipandang sebagai keturunan orang tua dan orang tua adalah keturunan neneknya dan seterusnya, demikian terjadi proses turun-temurun. Dengan sendirinya apa yang dimiliki oleh nenek moyang pada masa lampau itu harus diwariskan kepada turunan berikutnya. Upaya pewarisan itu dilakukan melalui berbagai prosedur : pengajaran, media, hubungan pribadi dan sebagainya. Bila dilakukan melalui pengajaran, maka proses yang telah dikemukakan dalam perumusan pertama berlaku dan di-laksanakan dengan teknik yang sama.

3).    Bahan pembelajaran bersumber dari kebudayaan

Yang termasuk kebudayaan adalah kebiasaan orang berpikir dan berbuat seperti: kehidupan keluarga, cara menyediakan makan, bahasa, pemerintahan, ukuran moral, kepercayaan keagamaan dan bentuk-bentuk ekspresi seni. Kebudayaan merupakan kumpulan daripada warisan sosial dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian ini, kebudayaan itu bersifat non-material, dan bersifat abstrak, ada dalam jiwa dan kepribadian manusia. Benda-benda bersifat mate­rial sesungguhnya adalah hasil dari keterampilan manusia (Worces­ter, 1969).

Kebudayaan dan hasil kebudayaan diwariskan kepada siswa yang umumnya berupa benda dan non-benda; tertulis atau lisan, dan berbagai bentuk tingkah laku, norma dan lain-lain.

4).    Siswa sebagai generasi muda ahli waris kebudayaan

Generasi muda berfungsi sebagai generasi penerus. Mereka perlu dipersiapkan sedemikian rupa agar benar-benar siap me-lanjutkan hasil kerja yang telah dicapai oleh generasi yang ada sekarang. Kebudayaan yang diwariskan kepada mereka harus dikuasai dan dikembangkan, sehingga mereka menjadi warga masyarakat yang lebih berbudaya. Dalam hal ini diakui bahwa anak sedang berada dalam tarap perkembangan dan menuju ketingkatan yang lebih dewasa, dalam arti, menjadi manusia berbudaya. Mereka harus mampu memanfaatkanteknologi, sebagai aspek dari kebudayaan, untuk kehidupannya, serta mampu mengadakan peiiemuan-penemuan baru, mengembangkan kebudayaan yang telah ada.

c.    Pembelajaran adalah Upaya Mengorganisasi Lingkungan un­tuk Menciptakan Kondisi Belajar bagi Peserta Didik

Rumusan ini dianggap lebih maju dibandingkan dengan rumusan terdahulu, sebab lebih menitikberatkan pada unsur peserta didik, ling-kungan, dan proses belajar. Perumusan ini sejalan dengan pendapat dari Me. Donald, yang mengemukakan sebagai berikut:

Educational, in the sense used here, is a process or an activity which is directed at producing desirable changes in the behavior of human beings (Me. Donald, 1959)”, artinya pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan menghasilkan perubahan tingkah laku manusia.

Implikasi dari pengertian tersebut ialah sebagai berikut:

1)      Pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku peserta didik

Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri : (1). Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2). Pola organisasi kepribadian berbeda untuk setiap orang dan bersifat unik, (3). Kepribadian bersifat dinamis, terus berubah melalui cara-cara tertentu. Tingkah laku manusia memiliki dua aspek, yakni : (1).Aspek objektif, yang bersifat struktural, yakni aspek jasmaniah, ; (2). Aspek subjektif, yang bersifat fungsional, yakni aspek rohaniah.

2)      Kegiatan pembelajaran berupa perorganisasian lingkungan

Perkembangan tingkah laku seseorang adalah berkat pengaruh dari lingkungan. Lingkungan kita artikan secara luas, yang terdiri dari lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial sering lebih berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Melalui interaksi antara individu dan lingkungannya, maka siswa memperoleh pengalaman, yang pada gilirannya berpengaruh ter­hadap perkembangan tingkah lakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses sosialisasi di mana anak didik disiapkan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sekitamya.

Sekolah berfungsi menyediakan lingkungan yang dibutuhkan bagi perkembangan tingkah laku siswa, antara lain menyiapkan program belajar, bahan pelajaran, metode mengajar, alat mengajar dan lain-lain. Selain dari itu, pribadi guru sendiri, suasana kelas, kelompok siswa, lingkungan di luar sekolah, semua menjadi ling­kungan belajar yang bermakna bagi perkembangan siswa.

3)      Peserta didik sebagai suatu organisme yang hidup

Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk ber-kembang, misalnya : kebutuhan, minat, tujuan, abilitas, intelegensi, emosi dan lain-lain. Tiap individu peserta didik mampu berkem-bang menurut pola dan caranya sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan interaksi dengan lingkungan­nya.

Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam din peserta didik. Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai organisator belajar bagi siswa yang potensial itu, sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal.

d.     Pembelajaran adalah Upaya Mempersiapkan Peserta Didik untuk Menjadi Warga Masyarakat yang Baik

Rumusan ini didukung oleh para pakar yang menganut pandangan bahwa pendidikan itu berorientasi kepada kebutuhan dan tuntutan ma­syarakat. Implikasi dari rumusan/pengertian ini, adalah sebagai berikut:

1).    Tujuan pembelajaran

Pembentukan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat bekerja di masyarakat. Seorang warga negara yang baik bukan menjadi konsumen, tetapi yang lebih penting ialah menjadi seorang produsen. Untuk menjadi seorang produsen, maka dia harus memiliki keterampilan berbuat dan bekerja, menghasilkan barang-barang dan benda-benda kebutuhan masya­rakat. Motto yang dikemukakan : “Benign habitat for good living”, artinya seorang warga negara yang baik bila dapat menyumbangkan dirinya kepada kehidupan yang baik.

2).    Pembelajaran berlangsung dalam suasana kerja

Program pembelajaran diselenggarakan dalam suasana kerja, di mana para siswa mendapat latihan dan pengalaman praktis. Karena itu, suasana yang diperlukan ialah suasana yang aktual, seperti dalam keadaan sesungguhnya. Para siswa mengerjakan hal-hal yang menarik minatnya dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3).    Peserta didik/siswa sebagai calon warga negara yang memiliki potensi untuk bekerja

Siswa memiliki bermacam kemampuan, minat, dan kebu­tuhan, antara lain kebutuhan ingin berdiri sendiri, ingin punya pekerjaan. Siswa tidak menginginkan berdiam dengan pasif, se­mua ingin melakukan kegiatan, bermain, atau bekerja. Energi yang mereka miliki perlu mendapat penyaluran sebagaimana mestinya. Jikalau energi itu tidak disalurkan, maka dapat menyebabkan tingkah laku yang tidak diharapkan.

Perumusan atas kebutuhan-kebutuhan itu, pengembangan minat dan sikap, penyaluran energi yang berlebihan sebaiknya dilakukan dengan cara menyediakan kesempatan bekerja, men-can pengalaman yang praktis, dan memupuk keterampilan jasmaniah-rohaniah. Dengan berkembangnya kemampuan kerja, maka tuntutan dan harapan masyarakat dapat dipenuhi. Pada dasarnya tidak ada masyarakat yang menginginkan anak-anaknya menjadi barisan penganggur.

4),    Guru sebagal pimpinan dan pembimbing bengkel kerja

Sesuai dengan tujuan tersebut, sekolah rnerupakan suatu ruangan workshop dan oleh karenanya guru harus mampu memimpin dan membimbing siswa belajar bekerja dalam bengkel sekolah. Guru-guru harus menguasai program keterampilan khu-sus dan menguasai strategi pembelajaran keterampilan, serta , menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai kesibukan yang bermakna. Dalam hal ini, peranan guru dalam sekolah komprehensif adalah sangat penting.

e.     Pembelajaran adalah Suatu Proses Membantu Siswa Menghadapi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari

Pandangan ini didukung oleh para pakar yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Sekolah dan masyarakat adalah suatu integrasi. Pendidikan adalah di sini dan sekarang ini (G.E. Olson, 1945). Implikasi dari pengertian ini adalah sebagai berikut:

1)      Tujuan pembelajaran ialah mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakatnya

Sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi ber­bagai masalah dalam kehidupan, mereka bukan dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang masih jauh, 10 atau 20 tahun ke depan, melainkan untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari dalam lingkungannya, di rumah dan di masyarakat. Karena itu para siswa harus mengenal keadaan kehidupan yang sesungguh-nya dan belajar memecahkannya.

2)      Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat

Masyarakat dinyatakan sebagai laboratorium belajar yang paling besar. Sumber-sumber masyarakat tak pernah habis se­bagai sumber belajar. Prosedur penyelenggaraannya, ialah dengan cara membawa siswa ke dalam masyarakat dengan karyawisata, survei, berkemah, dan lain-lain; atau dengan cara membawa masyarakat ke dalam sekolah sebagai nara sumber. Dengan demikian, masyarakat akan memberikan sumbangan yang besar terhadap pendidikan anak, dan sebaliknya, sekolah akan memberi­kan bantuan dalam memecahkan masalah-masalah masyarakat. Sekolah juga berfungsi turut memperbaiki kehidupan masyarakat sekitamya.

3).    Siswa belajar secara aktif

Siswa bukan saja aktif belajar di laboratorium sekolah, mencari pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan, tetapi juga aktif bekerja langsung di masyarakat. Dengan cara ini, semua po-tensi yang mereka miliki menjadi hidup dan berkembang. Siswa turut merencanakan, berdiskusi, meninjau, membuat laporan, dan lain-lain, sehingga perkembangan pribadinya selaras dengan kon-disi lingkungan masyarakatnya.

4).    Guru juga bertugas sebagai komunikator

Guru juga bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Guru mempersiapkan rencana awal pembelajaran, kemudian menyusun rencana lengkap bersama para siswa se­bagai persiapan pelaksanaan di lapangan. Guru harus mengenal dengan baik keadaan masyarakat sekitamya, supaya dapat menyusun proyek-proyek kerja bagi para siswa. Kelas selalu melakukan inventarisasi masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat, kemudian diupayakan pemecahannya. Peranan se­bagai komunikator, bukan saja memerlukan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan apresiasi, namun diperlukan pula keteram­pilan berintegrasi dan bekerja sama dengan masyarakat.

Berdasarkan teori-teori tersebut semakin jelaslah, bahwa kegiatan dan proses pembelajaran itu sangat kompleks. Pandangan-pandangan yang telah dibahas itu, akan menjadi lebih jelas setelah mempelajari uraian-uraian berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abmayu, S. dan Samad, S. 2003. Pedoman Penulisan Skripsi. Makasar: FIP UNM.

_______. 2005. Psikologi Pendidikcm. Makasar: FIP UNM.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan. Jakarta: Bina Aksara

Djamarah, S. B. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

G.R. Terry. 2003. Prinsip-prinsip Manajemen. Terjemahan J Smith D F M. Jakarta: Bumi Aksara.

Hadi, S. 2000. Statistik Jilidl. Yogyakarta: Andi.

Haling, A. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makasar: UNM.

Hamdat, M. N. 2003. Belajar dan Pembelajaran. Diklat: Makassar FKJP UNISMUH.

Hasibuan, J. J. dan Moedjiono. 1992. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hendrojuwono,   W.   1983.  Pengantar Psikologi Belajar. Bandung:   Universitas Padjajaran.

Moekijat. 1987. Pembangunan Manajemen dan Motivasi. Bandung: Pionir Jaya.

Purwanto, M, N. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi Buku 1, 2007, Jakarta: Salemba Empat, hal. 69-79.

Rosdakarya. Winkel, W.S. 1991. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Grasindo

Sahabuddin. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: UNM.

Sardinian, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.

Semiawan, C. (1978). Lingkungan belajar yang mengundang suatu pendekatan bermakna dalam meningkatkan perkembangan anak retardasi mental. Disertasi. Jakarta: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Undang-undang  Republik  Indonesia Nomor  20  Tahun  2003.   tentang   sistem pendidikan Nasional beserta Penjelasannya. Bandung: Citra Umbara.

Usman, M. U. 1994. Menjadi Guru Profesional Bandung: PT. Remaja

Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008. Hal.10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s